Sosiologi Sastra dalam Novel “Aku Cinta Lovina” Karya Sunaryo Basuki Ks
Karya
sastra dapat dikaji menggunakan beberapa teori sastra. Menghubungkan sastra
dengan sosiologi salah satunya. Meskipun sastra dan sosiologi adalah dispilin
ilmu yang berbeda, namun akulturasi keduanya dapat melahirkan bidang ilmu yang
baru, yakni sosiologi sastra. Sosiologi sastra memahami sastra memahami karya
sastra melalui perpaduan ilmu sastra dan ilmu sosiologi, maka dari itu
sosiologi sastra disebut dengan interdisipliner.
Novel
“Aku Cinta Lovina” Karya Sunaryo Basuki Ks adalah novel yang mengangkat
kehidupan Bali dalam jalan ceritanya. Tokoh utama dalam novel ini adalah Putu
Suarcaya yang bekerja sebagai staff front
office di salah satu hotel di kawasan Lovina. Analisis unsur sosiologi
sastra dalam novel tersebut menemukan beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut
meliputi aspek aspek moral, aspek cinta kasih, aspek adat, aspek religius, dan
aspek pendidikan.
Terdapat
beberapa aspek moral yang dalam novel “Aku Cinta Lovina”. Untuk mengetahuinya,
maka bisa dilihat pada kutipan berikut.
Aku terpuruk di atas tubuhnya
yang tidak lagi ditutupi selembar kain pun. Tinggal yang menggalkan celana
dalamku di balik sarung yang kukenakan. Caroline dengan sengaja menyodorkan
payu daranya. Aku mengerti, tapi aku tidak langsung bangkit.
“Maaf Caroline.”
Aku tidak tahu apakah dia
kecewa atau dia sudah merasa puas. (hal 53)
Kutipan
tersebut menunjukkan tingkah laku yang berkaitan dengan moral yang baik. Karena
Putu Suarcaya tidak langsung tergoda pada rayuan Caroline saat diajak bersetubuh. Caroline adalah seorang bule
yang menginap di hotel tempatnya bekerja. Bagian “Aku mengerti, tapi aku tidak
langsung bangkit.” menunjukkan bahwa Putu Suarcaya masih tunduk pada aturan
moral yang ada di Indonesia. Bahkan dalam novel ini Putu Suarcaya diceritakan
dua kali diajak bersebutuh oleh gadis cantik, namun semuanya ditolak olehnya.
...Ayu menarik kepalakau dan
membawanya mendekap dalam buah dadanya, memaksaku untuk menyedotnya. Aku merasa
jijik. Tadi aku sudah enggan untuk minum susu soda, sekarang lebih enggan
meminum susu manusia. Ini bukan hakku, bukan aku yang memiliki hak untuk
melakukannya. (hal 138)
Aspek
cinta kasih yang ada di dalam novel ini terdapat sangat banyak sekali.
Mengingat novel ini bercerita tentang kisah cinta dari si tokoh utama. Kutipan
mengenai cinta kasih yang dituliskan salah satunya adalah seperti di bawah ini.
“It’s wonderful to know you,
Putu. I love you.”
Aku segera menerima permintaan
pertemanan itu dan sekaligus mengirim pesan :
“Selamat berkeliling Bali.
Semoga senang dengan berbagai hal di pulau sorga ini. Ini adalah sorga,
Caroline, sorga kita.”(hal 69)
Kutipan
tersebut menunjukkan adanya hubungan cinta kasih. Dalam penggalan novel di atas
terlihat Caroline mengatakan i love you kepada
Putu, sedangkan Putu membalasnya dengan kalimat pernyataan yang menerangkan
Pulau Bali adalah sorga untuk mereka berdua.
Aspek
adat sangat banyak dijelaskan dalam novel ini, mengingat penulis mengambil
lanskap Bali. Bali memang dikenal sebagai Pulau yang memiliki banyak adat dan
aturan bagi warga dan pemeluk agama Hindu.
...Aku orang Bali yang sangat
terikat dengan desaku, pada pura desa, pada pura kawitan, pura adat, pada
semuanya yang menjadikan Bali adalah Bali... (hal 90)
“Sebagai orang Bali, dia
terikat pada alam Bali. Dia juga harus bersembahyang dengan cara Bali, yang
mungkin terlihat aneh di mata orang Inggris.” (hal 111)
Aspek
religius hampir sama persis dengan aspek adat. Bahkan cukup sulit dicari
perbedaannya. Berikut beberapa kutipan aspek religius yang ada dalam novel ini.
“Bilang pada bapa dan meme,
bahwa kamu sudah lulus dengan hasil baik. Lalu mandi dan mebakti di sanggah.
Keberhasilanmu ini disebabkan oleh pertolongan dewa-dewa.” (hal 99)
...bilamana Kadek berada di
rumah, ada yang membersihkan rumah lalu menyalakan harum dupa bersembahyang di
Pura Keluarga, tak ada satu pun yang terlewat... (hal 130)
Bersembahyang
sebagai rasa syukur adalah salah satu kewajiban umat Hindu Bali setiap harinya.
Sembahyang tersebut banyak macamnya, mulai dari mebanten, upacara tumpek uye, dan upacara tumpek landep.
Selain
yang sudah diuraikan di atas tadi, Sunaryo Basuki Ks juga menggambarkan aspek
pendidikan di dalamya.
“Aku sudah bicara dengan bapa,
aku yang akan membiayai Kadek sekolah. Ke IKIP, kan? Selesaikan program s-1,
kalau bisa terus ke pascasarjana, kakak akan biayai.” (hal 44)
Kutipan
di atas menunjukkan bahwa keluarga Putu Suarcaya sangat memperhatikan
pendidikan. Bahkan Kadek Citra, adik Putu Suarcaya, bisa melanjutkan studinya
di luar negeri, di negara Caroline. Padahal masyarakat Bali dikenal sangat
terikat dengan adat dan tidak bisa pergi jauh-jauh dipatahkannya dalam novel
ini. Dalam realita kehidupan dunia nyata pun, memang benar-benar ada orang yang
menuntut ilmu jauh dari Bali.
Aspek sosiologi sastra pasti selalu
ada dalam karya sastra. Mengingat sastra tak dapat lepas dari kehidupan
masyarakat.

Komentar
Posting Komentar