Analisis Puisi Hatiku Selembar Daun Karya Sapardi Djoko Damono
Analisis Puisi Hatiku Selembar Daun Karya Sapardi Djoko Damono
Sugeng Santoso
hatiku selembar daun melayang jatuh di rumput;
nanti dulu, biarkan aku sejenak berbaring di sini;
ada yang masih ingin ku pandang yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi.
nanti dulu, biarkan aku sejenak berbaring di sini;
ada yang masih ingin ku pandang yang selama ini senantiasa luput;
sesaat adalah abadi sebelum kau sapu tamanmu setiap pagi.
-
Sapardi Djoko Damono
Dalam judul puisi ini terdapat metafora antara
hati dengan daun. Perumpamaan ini didasari oleh persamaan yang ada di antara
keduanya. Pertama, hati dan daun sama-sama rapuh. Kedua, hati dan daun sama-sama
memiliki bentuk yang pipih. Selain ittu, mereka juga sama-sama berupa
lembaran-lembaran. Hubungan antara baris pertama dengan judul adalah pada
penulisan “melayang jatuh”. Kata “melayang jatuh” berhubungan dengan selembar
daun yang dijadikan judul. Karena yang dapat melayang jatuh adalah selembar
daun sendiri. Hal itu terjadi karena selembar daun memiliki bentuk yang tipis
dan beban yang ringan sehingga akan mudah melayang terbawa angin.
Pada baris selanjutnya, baris kedua, tidak ada
hubungan sama sekali dengan baris sebelumnya maupun dengan judul. Maka dari
itu, baris kedua disebut dengan baris penghambat. Pada baris ketiga pun juga
tidak terdapat hubungan dengan baris kedua. Namun pada baris terakhir, kata “sebelum
kau sapu” memiliki kaitan dengan baris kedua, yakni bagian “nanti dulu”. Kaitan
tersebut berarti bahwa ada sesuatu yang menolak sapuan di taman, dan sesuatu
itu adalah daun. Daun tersebut masih ingin berbaring karena masih ada sesuatu
yang ingin dia pandang. Baris terakhir puisi ini disebut dengan setting puisi, karena di bagian inilah
terdapat latar waktu dan latar tempat, yaitu di taman pada pagi hari.


Komentar
Posting Komentar