Birokrasi, Pangkungparuk Ingin Berliterasi

Mereka
datang silih berganti, ‘tuk melihat ragamnya kebudayaanmu.
Hari-hari
ke hari tampat berseri, seakan tiada hentinya bersolek diri.
Saya sengaja membuka opini ini dengan lirik lagu Bali Tersenyum agar pembaca menjadi ingat bahwa Bali merupakah
salah satu tempat yang istimewa di Nusantara. Siapa yang tidak kenal dengan
pulau mungil yang memiliki
sejuta pesona ini? Bali selalu menjadi tujuan parisata oleh turis lokal maupun
turis internasional. Bahkan banyak orang di belahan dunia lain yang lebih
mengenal Bali daripada Indonesia sendiri.
Bali memiliki pesona
budaya di tiap-tiap sudut pulaunya. Suguhan
matahari tenggelam dan matahari terbit di pantai-pantai Bali yang
dibalut dengan kearifan budaya membuatnya nampak istimewa di mata dunia.
Meskipun begitu, siapa sangka? Di pulau yang juga dijuluki sebagai Pulau Seribu
Pura ini masih terdapat tempat-tempat yang dapat dikategorikan tertinggal.
Padahal, Menteri
Desa, Pembangunan Daerah, dan Transmigrasi Indonesia, Eko Putro Sanjojo, telah
mengatakan bahwa tidak ada desa yang tertinggal di Bali. Beliau berasumsi demikian setelah mendapat sebuah laporan.
Nyatanya tidak. Masih banyak tempat-tempat yang tertinggal di Bali. Salah satunya Desa Pangkungparuk yang berada di Kabupaten Buleleng. Desa tersebut memiliki beberapa dusun yang dapat dikatakan tertinggal. Dusun-dusun tersebut di antaranya adalah Dusun Yeh Selem, Dusun Lebah Mantung, dan Dusun Lama Amertha.
Miris, hanya terdapat satu sekolah di tiga dusun
tersebut. Sekolah itu bernama SD Negeri 3 Pangkungparuk, yang
berada di Dusun Laba Amertha. Umumnya
siswa yang duduk di kelas 1 dan kelas 2 masih belajar
membaca. Hal ini dilatarbelakangi karena tidak adanya
Taman Kanak-kanak di sana. Angka drop out pun
bisa dibilang cukup tinggi, karena dari pihak orang tua
lebih mendukung anaknya bekerja daripada sekolah.
Ketika saya dan tim sukarelawan mengunjungi ketiga dusun tersebut,
jalanan yang harus dilalui cukup
sulit. Jalan yang menanjak dan beberapa titik yang
rusak membuat perjalanan harus ekstra berhati-hati. Akses untuk ke jantung desa
cukup sulit, angkutan umum pun juga tidak tersedia. Maka tak heran, jika banyak
anak-anak yang sekolah
di SD Negeri 3 Pangkung
Paruk harus berjalan
kaki hingga 4 km untuk sampai ke sekolah. Anak-anak
ini berangkat dari rumah pukul 06.00 pagi, akibatnya terkadang mereka pergi ke
sekolah tanpa mandi.
Selain keterbatasan guru, SD Negeri 3 Pangkungparuk juga tidak memiliki
bahan bacaan yang beraneka ragam. Sementara
keberadaan sarana dan SDM penunjang literasi sangat
diperlukan untuk memajukan budaya literasi itu sendiri. Ditambah lagi, kebanyakan
siswa di SD tersebut tidak melalui bangku TK. Jelas sudah, akan sangat sulit mengembangkankan literasi di sana. Banyak siswa SD Negeri 3 Pangkungparuk yang senang ketika
kami datangi. Kami juga sempat bertanya, bagaimana jika
diadakan kegiatan membaca bersama? Respons mereka sangat antusias. Bahkan mereka
sangat menunggu hal ini.
Di Bali, Pemerintah Daerah sudah menyediakan beasiswa untuk para siswa yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi dengan kuota yang banyak. Lalu mengapa tidak diadakan perekrutan guru untuk mengabdi di desa-desa terpencil seperti Pangkungparuk saja? Toh kalau diangkat PNS pasti guru-guru honorer akan berebut daftar. Selain itu, belikan para siswa itu buku dan baju yang layak. Mereka punya banyak mimpi, Pangkungparuk ingin berliterasi. (Santos)

Komentar
Posting Komentar